SASANDO SEBAGAI WARISAN BUDAYA ROTE: SEJARAH, NILAI ADAT, DAN TANTANGAN PELESTARIAN DI ERA MODERN
DOI:
https://doi.org/10.1234/jiur.v1i2.68Kata Kunci:
Sasando, warisan budaya, masyarakat Rote, pelestarian, identitas budayaAbstrak
Penelitian ini membahas Sasando, alat musik tradisional khas Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, yang memiliki peran penting dalam sejarah, nilai adat, dan identitas budaya masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, pengrajin, serta pemerhati budaya, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan model interaktif Miles & Huberman, sementara keabsahan data dijaga melalui triangulasi dan member check.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah Sasando memiliki beragam versi yang hidup dalam tradisi lisan, antara lain versi Pupuk Soroba pada abad ke-13, Sangguana pada abad ke-17, maupun dua pemuda Lunggi Lain dan Balo Ama. Perbedaan narasi ini mencerminkan dinamika tradisi lisan yang tetap menguatkan identitas kolektif masyarakat Rote. Dari segi fungsi budaya, Sasando bukan sekadar instrumen musik, melainkan memiliki nilai sakral, sosial, dan simbolik dalam berbagai upacara adat. Proses pembuatan Sasando melibatkan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, sehingga menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang eksklusif.
Faktor pendukung pelestarian Sasando meliputi peran komunitas lokal melalui sanggar seni, dukungan pemerintah dalam festival budaya, serta pendidikan multikultural di sekolah. Namun demikian, hambatan yang dihadapi antara lain menurunnya minat generasi muda, berkurangnya tenaga pengrajin terampil, serta dominasi musik modern. Penelitian ini menegaskan perlunya strategi pelestarian yang adaptif, seperti revitalisasi fungsi, integrasi dalam pendidikan, serta promosi budaya melalui festival dan diplomasi internasional. Dengan demikian, Sasando tidak hanya menjadi warisan lokal masyarakat Rote, tetapi juga berpotensi sebagai ikon budaya bangsa Indonesia di tingkat global.
Referensi
Appadurai, A. (1996). Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalization. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Baudrillard, J. (1998). The Consumer Society: Myths and Structures. London: Sage.
Barth, F. (1969). Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Culture Difference. Oslo: Universitetsforlaget.
Danandjaja, J. (2007). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Furqan, M. (2024). Makna Simbolis Gong Rote dalam Tarian foti di Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur. JURNAL ILMIAH UNSTAR ROTE, 3(1). https://doi.org/10.1234/jiur.v3i1.48
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Hobsbawm, E., & Ranger, T. (1983). The Invention of Tradition. Cambridge: Cambridge University Press.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Levi-Strauss, C. (1963). Structural Anthropology. New York: Basic Books.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry. Beverly Hills, CA: Sage Publications.
Malinowski, B. (1944). A Scientific Theory of Culture and Other Essays. Chapel Hill: University of North Carolina Press.
Merriam, A. P. (1964). The Anthropology of Music. Evanston: Northwestern University Press.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook. Thousand Oaks: Sage Publications.
Moleong, L. J. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nye, J. S. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. New York: Public Affairs.
Smith, L. (2006). Uses of Heritage. London: Routledge.
Soedarsono. (2001). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Spradley, J. P. (1997). Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Steward, J. H. (1955). Theory of Culture Change: The Methodology of Multilinear Evolution. Urbana: University of Illinois Press.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tilaar, H. A. R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.
UNESCO. (2003). Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. Paris: UNESCO.
Vansina, J. (1985). Oral Tradition as History. Madison: University of Wisconsin Press.
##submission.additionalFiles##
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 JURNAL ILMIAH UNSTAR ROTE

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
